Mohon lengkapi data di bawah ini sebelum melanjutkan.

tips
PESTISIDA NABATI
Admin
13 Februari 2018
125 kali dilihat
facebook twitter whatsapp
artikel
PESTISIDA NABATI.

PESTISIDA NABATI

Bahan aktif pestisida nabati adalah produk alam yang berasal dari tanaman yang mempunyai kelompok metabolit sekunder yang mengandung beribu-ribu senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, fenolik, dan zat – zat kimia sekunder lainnya. Senyawa bioaktif tersebut apabila diaplikasikan ke tanaman yang terinfeksi OPT,  tidak  berpengaruh  terhadap  fotosintesis  pertumbuhan ataupun aspek fisiologis tanaman lainnya, namun berpengaruh terhadap sistem saraf otot, keseimbangan hormone, reproduksi, perilaku berupa penarik, anti makan dan sistem pernafasan OPT.

Kelompok pestisida sintetik yang sudah dikembangkan dan dipasarkan  saat  ini  banyak  yang  berasal  dari  pestisida  nabati seperti karbamat dan piretroid. Pada tahun 1800-an ekstrak tembakau dan asap nikotin telah digunakan untuk mengendalikan hama. Di Asia dan sekitarnya para petani lebih mengenal bubuk pohon deris, yang mengandung bahan aktif rotenon sebagai zat pembunuh. Bahan aktif pirenthin I dan II serta anerin I dan II, yang diperoleh dari bunga Pyrentrum aneraria juga banyak digunakan. Penggunaan pestisida nabati kurang berkembang karena berbagai hal antara lain karena kalah bersaing dengan pestisida sintetis, dan juga karena ekstrak dari tanaman/tumbuhan umumnya mempunyai kadar bahan aktifnya tidak tetap, bervariasi dan tidak stabil.

Lebih dari 1500 jenis tumbuhan dari berbagai penjuru dunia diketahui  dapat  digunakan  sebagai  pestisida  nabati.  Di  Filipina, tidak kurang dari 100 jenis tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif insektisida. Di Indonesia terdapat 50 famili tumbuhan penghasil racun. Famili tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial insektisida nabati antara lain Meliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae dan   Rutaceae. Selain bersifat sebagai insektisida, jenis-jenis tumbuhan tersebut juga memiliki sifat sebagai fungisida, virusida, nematisida, bakterisida, mitisida maupun rodentisida. Jenis pestisida yang berasal dari tumbuhan  tersebut  dapat  ditemukan  di  sekitar  tempat  tinggal petani, dapat disiapkan dengan mudah menggunakan bahan serta peralatan sederhana.

Pestisida  nabati  dapat  berfungsi  sebagai  :  (1)  penghambat nafsu makan (anti feedant); (2) penolak (repellent); (3) penarik (atractant); (4) menghambat perkembangan; (5) menurunkan keperidian;   (6)   pengaruh  langsung   sebagai   racun   dan  (7) mencegah peletakkan telur.

Untuk membuat pestisida nabati diperlukan bahan – bahan berupa bagian dari tanaman misalnya daun, biji, buah, akar dan lainnya. Bahan-bahan  tersebut  dapat  diolah  menjadi  berbagai macam bentuk, antara lain : cairan berupa ekstrak dan minyak, pasta serta bentuk padat berupa tepung atau abu. Bahan-bahan tersebut di atas umumnya dibuat dengan cara diblender, direbus dan direndam sebelum disemprotkan.  Untuk jenis biji direndam terlebih  dahulu  kemudian  ditumbuk/diblender.  Sedangkan  jenis daun dan umbi dapat diblender dan diambil ekstraknya.  Sebelum digunakan bahan-bahan di atas dicampur dengan larutan sabun/ditergent dan direndam semalam, setelah itu siap digunakan. Hal lain yang harus diperhatikan sebelum   membuat ramuan pestisida nabati adalah mengetahui terlebih dahulu hama atau penyakit yang menyerang sayuran yang ditanam.

Efektivitas suatu bahan-bahan alami yang digunakan sebagai pestisida nabati sangat tergantung pada bahan tumbuhan yang dipakai, karena satu jenis tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan sifat bioaktif atau sifat racunnya tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman  dan jenis dari tumbuhan tersebut.

Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menggunakan pestisida nabati adalah keunggulan dan kelemahan penggunaan pestisida nabati tersebut. Keunggulan pestisida nabati antara lain : (1) mengalami degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari; (2) memiliki efek/pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan  nafsu  makan  serangga  walapun  jarang menyebabkan kematian; (3) toksitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relatif lebih aman pada manusia (lethal dosage (LD) >50 Oral); (4) memiliki spektrum pengendalian yang luas (racun lambung  dan  syaraf)  dan  bersifat  selektif;  (5)  dapat  diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida sintetis; (6) fitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman dan (7) murah dan mudah dibuat oleh petani.

Kelemahan  pengggunaan  pestisida  nabati  antara  lain  :  (1) cepat terurai dan aplikasinya harus lebih sering; (2) caya racunnya rendah (tidak langsung mematikan serangga/memiliki efek lambat); (3)   kapasitas  produksinya   masih   rendah   dan    belum   dapat dilakukan dalam jumlah massal (bahan tanaman untuk pestisida nabati belum banyak dibudidayakan secara khusus); (4) ketersediaannya di toko-toko pertanian masih terbatas dan (5) kurang praktis dan tidak tahan disimpan.

Sumber : W. Setiawati, R. Murtiningsih, N. Gunaeni, dan T. Rubiati: Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati dan Cara Pembuatannya untuk Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), 2008

(MP3_S)

0 Komentar
?
TAGS
Bagikan:
facebook twitter whatsapp
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
Artikel Terkait
Lihat lebih banyak
Lentera DESA

Lentera DESA adalah platform edukasi dan pelatihan online di bidang agrokompleks (pertanian, perikanan, dan peternakan). Lentera DESA menyediakan ruang Diskusi untuk saling bertukar informasi dan menjalin relasi. Lentera DESA dikelola oleh Unit Sistem Informasi dan Media Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada


Copyright © 2021 | Lentera DESA
Beranda
Artikel dan Video
Informasi
Kontak