Kenaikan harga bahan pangan pokok menjelang bulan suci Ramadhan hingga Hari Raya Idulfitri merupakan fenomena musiman yang hampir selalu terjadi setiap tahun di Indonesia. Lonjakan permintaan konsumsi rumah tangga, disertai dengan kendala distribusi, peningkatan biaya input pertanian, serta faktor agroklimat, mendorong fluktuasi harga berbagai komoditas strategis seperti cabai rawit, telur ayam, daging ayam, dan sayuran hijau. Berdasarkan data pemantauan harga dari Badan Pangan Nasional, beberapa komoditas hortikultura dan produk peternakan menunjukkan tren kenaikan harga signifikan pada periode menjelang hari besar keagamaan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada daya beli masyarakat, tetapi juga menunjukkan pentingnya penguatan ketahanan pangan dari unit terkecil, yaitu rumah tangga.
Ketahanan pangan tidak semata dimaknai sebagai ketersediaan pangan di tingkat nasional, tetapi juga kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangannya secara berkelanjutan. Salah satu strategi adaptif yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan lahan pekarangan melalui praktik pertanian mandiri atau urban farming.
Pemanfaatan pekarangan rumah, teras, bahkan ruang vertikal bangunan memungkinkan keluarga memproduksi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri. Selain membantu menekan pengeluaran di tengah fluktuasi harga, praktik ini juga mendorong konsumsi pangan yang lebih segar dan berkualitas, serta meningkatkan kesadaran terhadap sistem produksi pangan.
Berikut beberapa metode budidaya yang dapat diterapkan secara sederhana dan efisien:
Sistem Pertanian Vertikultur
Vertikultur merupakan teknik bercocok tanam dengan menyusun wadah tanam secara vertikal atau bertingkat. Metode ini sangat ideal untuk jenis sayuran daun seperti selada, kangkung, bayam, seledri, dan pakcoy.
Tabulampot (Tanaman Buah dalam Pot)
Penggunaan polybag atau pot tetap menjadi pilihan populer karena kemudahannya. Tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, terong, dan bawang merah sangat cocok ditanam dalam polybag berukuran 30x30 cm atau 40x40 cm.
Budikamber (Budidaya Ikan dalam Ember)
Budikamber atau budidaya ikan dalam ember adalah inovasi yang mengintegrasikan perikanan dan pertanian dalam satu wadah terbatas yang biasanya berupa ember. Sistem ini menerapkan prinsip akuaponik sederhana di mana terjadi symbiosis mutualisme antara ikan dan tanaman. Sisa metabolism ikan yang mengandung ammonia akan diurai oleh bakteri menjadi nitrat, yang kemudian diserap oleh akar tanaman sebagai nutrisi pertumbuhan. Budikamber yang umum dilakukan adalah budikamber lele dan kangkong.
Regrow (Regenerasi Tanaman dari Sisa Dapur)
Teknik regrow atau menanam kembali potongan sayuran dapur merupakan metode paling ekonomis. Sisa sayuran dalam dapur seperti bawang merah, seledri, kangkong, sawi, kunyit, dan jahe dapat ditumbuhkan kembali dan dapat dikonsumsi setelah tumbuh.
Fenomena kenaikan harga bahan pangan menjelang Ramadhan dan Idulfitri merupakan tantangan ekonomi tahunan yang memerlukan langkah mitigasi strategis. Pemanfaatan lahan pekarangan melalui vertikultur, tabulampot, budikamber, maupun regrow merupakan bentuk kedaulatan pangan mikro yang dapat dilakukan oleh setiap keluarga. Dengan pendekatan sederhana namun berbasis pengetahuan, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi tekanan pengeluaran rumah tangga, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan yang lebih resilien dan berkelanjutan. Praktik pertanian mandiri di tingkat rumah tangga menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan yang adaptif, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa ketahanan pangan dimulai dari lingkungan terdekat.
Referensi:
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia 2024, badanpangan.go.id, infarm.co.id