Lada bangka masih menjadi primadona di pasar dunia. Namun, di Bangka sendiri, budi daya lada justru semakin tidak diminati oleh warga. Dalam dua dekade terakhir, area perkebunan lada di Bangka dan Belitung terus menyusut.
Syahroni mengungkapkan, petani mulai meninggalkan budi daya lada sejak 1990-an. Ketika itu, katanya, harga lada anjlok di bawah harga keekonomian. “Banyak petani yang merugi dan memilih beralih menanam komoditas lain. Harganya memang sempat naik lagi, tapi tetap fluktuatif,” bebernya.
Kepala Desa Puput, Zulkarnaen, memaparkan, setidaknya ada dua faktor mengapa banyak warga memilih berhenti berbudi daya lada. Pertama, jenis penyakit makin banyak. Ia menganalisis, kemungkinan hal ini disebabkan oleh cara pembibitan yang lebih menekankan kuantitas produksi. “Dulu, petani menyetek batang lada dengan memotong sampai tujuh ruas. Sekarang, caranya dipotong keriting,” ujar Zulkarnaen.

Faktor kedua terkait biaya produksi yang semakin membengkak. Selain harga pupuk yang kian mahal, Zulkarnaen menyoroti batang kayu rambatan batang lada. Menurut dia, kayu-kayu itu sekarang tak bisa dicari dengan gratis. Banyak petani yang merasa keberatan harus membeli kayu tajar dengan harga Rp 10 ribu per batang.
Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), sebagian besar lahan perkebunan lada telah beralih fungsi menjadi area pertambangan timah dan lahan perkebunan kelapa sawit. Harga timah dan kelapa sawit yang relatif lebih stabil menjadi daya tarik tersendiri. Terlebih, kelapa sawit telah dikelola dengan manajemen yang lebih baik oleh investor dan korporasi besar.
Pada dekade 1990-an, total luas perkebunan lada di Bangka Belitung mencapai 90 ribu hektare. Pada awal 2000-an, jumlah itu menyusut drastis menjadi 60 ribu hektare. Total produksinya pun ikut menyusut menjadi sekitar 60 ribu ton.
Pertengahan dekade 2000-an, total luas lahan perkebunan lada di Bangka Belitung kembali menyusut hampir separuhnya. Pada 2008, lahan perkebunan lada tinggal sekitar 33 ribu hektare dengan luas lahan yang sudah menghasilkan hanya 15 ribu hektare. Pada tahun itu, total produksi lada putih tercatat hanya 15 ribu ton.
Data terakhir pada 2012, total luas perkebunan lada tercatat 44,4 ribu hektare. Perinciannya, luas lahan dengan tanaman belum menghasilkan (TBM) 15,3 ribu hektare. Lahan dengan tanaman menghasilkan (TM) 22,8 hektare dan tanaman tua atau rusak (TT/TR) 6,3 hektare. Sedangkan, total produksi tercatat 31 ribu ton.

Luas perkebunan lada sekitar 44,4 ribu hektare saat ini hanya seperlima dari total lahan perkebunan sawit yang mencapai 252 ribu hektare. Sebagian besar lahan perkebunan kelapa sawit di Bangka Belitung berupa hak guna usaha (HGU) yang dikelola korporasi. Dari total luas yang ada, hanya sekitar 57 hektare yang merupakan perkebunan sawit masyarakat.
Untuk menanggulangi tren penyusutan ini, pemerintah mencanangkan upaya perluasan berupa intensifikasi dan rehabilitasi lahan. Total lahan yang direhabilitasi dan intensifikasi masing-masing mencapai 5.400 hektare. Tahun ini, pemerintah menargetkan penambahan 1.800 hektare perkebunan lada.
Sumber: republika.id