Miji Astutik (30) kala itu meminta sang suami berhenti menjadi pegawai sebuah perusahaan terkemuka kala itu di Probolinggo. Dia lantas mengajak dia beternak jangkrik yang dinilainya lebih menjanjikan.
Siapa sangka, mereka kini sukses meraup omzet jutaan hingga belasan juta rupiah setiap bulan, namun Kholili, 38, terpaksa menuruti kemauan sang istri. Alasan mundur cukup masuk akal, penghasilan tidak selalu cukup untuk sebulan.
Lalu, menjadi pegawai harus bekerja mulai pagi sampai sore. Sehingga, waktu untuk keluarga sangat terbatas. Bahkan, Kholili juga jarang berkumpul dengan keluarga besarnya. Mujiati lantaran hal tersebut, mendesak suami keluar dari perusahaan.
“Saya akhirnya minta suami berhenti saja menjadi karyawan perusahaan atau resign. Kemudian saya ajak beternak jangkrik,” terang Miji sambil bercerita tentang asal muasal dia dan suami beternak jangkrik.
Ide beternak jangkrik memang inisiatif Miji. Sebab, saudaranya pun beternak jangkrik. Dia melihat, beternak jangkrik sangat menjanjikan secara ekonomi. Banyak pemilik burung berkicau, ayam hias dan ayam jago yang membutuhkan untuk pakan.
Maka, sejak tahun 2020 warga RT 2/RW 2, Desa Jrebeng, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo itu beternak jangkrik bersama suaminya. Tepat saat pandemi Covid-19 baru terjadi. Awalnya, dia membeli telur jangkrik secara online dari Yogyakarta sebanyak 3 ons
Lalu, telur-telur itu ditetaskan dalam dua buah boks beralaskan kertas yang tertutup rapat. Ukuranya masing-masing 1,5 x 2 meter. Kini nama Miji dan Khololi semakin dikenal sebagai pengusaha jangkrik, hal itu berkat ketekunan mereka berdua memelihara jangkrik.
Sumber: radarjember.jawapos.com