Pada akhir Januari 2026, khususnya pada periode 23–27 Januari, sistem pemantauan meteorologi menunjukkan status siaga akibat berkembangnya bibit siklon tropis 91S di Samudra Hindia selatan Indonesia. Sistem ini berinteraksi dengan wilayah perairan di selatan Nusa Tenggara hingga pesisir Australia Barat dan berpotensi memicu kondisi cuaca ekstrem di kawasan sekitarnya.
Januari merupakan periode krusial dalam kalender tanam padi nasional. Di sebagian besar wilayah selatan ekuator, tanaman padi musim hujan (MH-1) umumnya memasuki fase generatif, yaitu tahap pengisian bulir ketika batang tanaman menanggung beban maksimal. Pertemuan antara fase pertumbuhan yang rentan terhadap gangguan mekanis dengan puncak musim siklon meningkatkan risiko terjadinya kegagalan panen.
Meskipun pusat sistem tekanan rendah berada di sekitar Australia Barat, dampaknya dapat dirasakan hingga wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan oleh gradien tekanan udara, di mana massa udara bergerak dari wilayah bertekanan relatif lebih tinggi menuju pusat tekanan rendah. Mekanisme ini memicu angin kencang yang bersifat persisten di wilayah Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur selama beberapa hari.
Dari perspektif biomekanika tanaman, dampak utama yang perlu diwaspadai adalah kondisi rebah (lodging), baik berupa rebah batang maupun rebah akar. Rebah batang terjadi ketika tekanan angin melampaui elastisitas batang, yang umumnya diperparah oleh kekurangan unsur hara Kalium (K) dan Silika (Si). Sementara itu, rebah akar sering dipicu oleh kombinasi hujan lebat dan angin kencang, di mana tanah yang jenuh air kehilangan kemampuan mencengkeram sistem perakaran secara optimal.
Mitigasi jangka pendek, menengah, dan panjang perlu dilakukan untuk meminimalisir dampak Siklon Tropis Launa.
Mitigasi Jangka Pendek (saat peringatan dini keluar)
1. Manajemen air darurat (drainase)
Mengeringkan lahan sawah dengen segera saat adanya peringatan merupakan upaya preventif yang perlu dilakukan. Tanah yang lebih lering akan mencengkeram akar lebih kuat dan mengurangi risiko rebah akar.
2. Pengikatan rumpun (crop tying)
Mengikat rumpun atau pucuk dari beberapa tanaman juga dapat dilakukan untuk mitigasi. Struktur piramida yang stabil akan terbentuk secara mekanis dan menopang beban angin. Cara ini terbukti efektif menyelamatkan panen pada fase pematangan.
3. Hentikan pemupukan nitrogen
Menunda pemupukan nitrogen pada kondisi angin kencang tepat dilakukan. Hal ini mengingat nitrogen akan memacu pemanjangan sel yang cepat. Namun perlu diingat bahwa kondisi ini juga akan menyebabkan dinding sel tipis dan mengandung air sehingga rapuh apabila terkena tekanan angin.
Mitigasi Jangka Menengah
1. Penguatan dinding sel tanaman
Penggunaan pupuk yang mengandung Silika (Si) seperti abu sekam, terak baja, atau pupuk cair nano silika, serta pupuk Kalium (KCl/ZK) dapat memperkuat struktur batang tanaman dan mencegah dari kondisi rebah.
2. Pengaturan jarak tanam (jajar legowo)
Pengaturan jarak tanam dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 atau 4:1 tepat dilakukan. Jarak kosong pada sistem ini memiliki fungsi sebagai sirkulasi udara dan mengurangi efek turbulensi angin yang merusak. Selain itu, tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang optimal sehingga batang tumbuh lebih kokoh dan mampu penahan tanaman tengah.
3. Pemilihan varietas unggul
Penggunaan varietas unggul seperti Inpari 32 HDB, Inpari 42 Agritan, dan Ciherang dapat dilakukan mengingat varietas ini memiliki struktur yang lebih aerodinamis dan perakaran dalam sehingga tahan angin.
Mitigasi Jangka Panjang
Strategi mitigasi jangka panjang dapat meningkatkan resiliensi lahan agraris secara signifikan. Melalui pendekatan adaptif seperti pelatihan agrometeorologi, skema asuransi usaha tani, dan diversifikasi sistem pertanian, potensi reduksi risiko kegagalan panen dapat mencapai 50%, sehingga menjamin keberlanjutan ketahanan pangan tingkat desa di tengah ancaman siklon yang berulang.
Peristiwa sistem siklon tropis pada awal 2026 menjadi manifestasi nyata dinamika atmosfer yang memengaruhi sektor pertanian Indonesia melalui dampak tidak langsung berupa angin kencang persisten yang memicu kerusakan fisiologis serta mekanis pada tanaman. Namun, strategi mitigasi berbasis sains — seperti pemahaman anatomi badai, penguatan fisiologi tanaman melalui nutrisi tepat, dan adaptasi sosial-ekonomi yang tangguh — memungkinkan minimisasi kerugian secara signifikan, sehingga menjaga resiliensi agraris di tengah ancaman berulang.
Referensi
BMKG 2026, Jurnal AGRIVET 2022, Jurnal Soilrens 2016