Amfibi erat dengan hewan vertebrata yang mampu hidup di dua alam, di darat dan air, misalnya katak atau kodok. Namun, amfibi era sekarang berlaku juga untuk varietas tanaman. Inovasi tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan varietas padi amfibi yang diperuntukkan mampu bertahan hidup di dua kondisi pertanian, yakni lahan basah (sawah) dan lahan tadah hujan (gaga).
Kondisi tanah yang sudah berbeda, luas lahan yang semakin berkurang, keterbatasan air, hingga cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan penelitian untuk menghasilkan varietas tanaman pangan yang mampu bertahan di segala kondisi. Calon varietas tersebut disukai petani, baik petani padi sawah maupun tadah hujan. Keunggulannya masa panen 120-130 hari, mampu bertahan hidup dan memulihkan diri ketika terjadi tekanan seperti peralihan dari kering ke kondisi basah. Konsep produksi pangan berkelanjutan tidak sebatas menghasilkan varietas unggul, tetapi memikirkan pertanian masa depan yang ramah lingkungan. Selain itu harus memperhatikan prinsip keberlanjutan untuk menyelamatkan sumber daya genetik tanaman pangan dari kepunahan.